MENGEMBANGKAN DIGITALPRENEUR DIKALANGAN PEMUDA

Hari Mulyadi

Pendahuluan
Terjadinya wabah pandemi Covid 19 sejak awal tahun 2020 merupakan ancaman kesehatan berskala global dengan kasus terkonfirmasi dan angka kematian yang cukup tinggi. Resiko yang ditimbulkan oleh virus Covid-19 tidak hanya berpengaruh pada aspek kesehatan, tetapi juga berpengaruh pada berbagai lini kehidupan. McKibbin & Fernando, (2020), menyatakan bahwa evolusi Virus Covid-19 dan dampaknya pada perekonomian sangat sulit diprediksi sehingga mempersulit pihak berwenang untuk menyusun kebijakan ekonomi dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. Ancaman krisis besar yang ditandai dengan terhentinya aktivitas produksi di banyak negara, jatuhnya tingkat konsumsi masyarakat, hilangnya kepercayaan konsumen, jatuhnya bursa saham yang akhirnya mengarah kepada ketidakpastian merupakan implikasi ekonomi dari pandemic covid-19 yang berkepanjangan (Pakpahan, 2020)..
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu yang terkena dampak pandemic covid-19 paling berat. Sebagian besar (68%) permasalahan yang dihadapi UMKM adalah penjualan yang menurun, 12% mengalami masalah kesulitan modal, 10% masalah distribusi yang terhambat serta sisanya karena kesulitan bahan baku dan terhambatnya produksi (Putri Anggia, 2020).
Demikian pula yang terjadi pada wirausaha muda dikalangan pemuda yang berkegiatan pada usaha mikro, mengalami hambatan dalam mengembangkan usahanya akibat dari pandemi covid 19. Sebagian besar dari usaha mereka mengalami kerugian bahkan ada beberapa dari usaha mereka bangkrut. Selain diakibatkan oleh pandemi covid 19, pada waktu observasi dan wawancara (Akhir Nopember 2020) dengan wirausaha muda tersebut, ternyata hampir sebagian besar, mereka tidak atau belum memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi berbasis digital dalam mengelola usahanya. Sebagian besar, mereka sudah memiliki handphone dan lapotop, namun tidak dimanfaatkan untuk membantu mengembangkan usahanya.
Pada Era Industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi menjadikan dunia bisnis berada dekat sekali dengan individu, dimana proses transaksi bisnis dapat dilakukan dengan mudah dan sangat cepat hanya melalui sentuhan pada android atau telepon genggam yang dimiliki oleh hampir seluruh individu. Perkembangan teknologi dari tahun ke tahun mendorong perusahaan untuk beradaptasi dan berupaya untuk melakukan penggunaan teknologi digital. Serbuan era digital melanda hampir seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali dunia bisnis, hampir seluruh industri telah mengarah pada penggunaan teknologi digital. (Herlinda, 2017; Okezone.com, 2017). Efek dari transformasi digital ini juga telah merambah ke berbagai sektor dalam bisnis seperti merubah cara kita dalam bekerja, berkomunikasi, dan juga merubah pola perilaku konsumen (McDonald and Rowsell-Jones. 2012).
Dalam era digital saat ini merupakan saat yang paling menguntungkan bagi banyak pihak terutama masyarakat Indonesia, seiring dengan bertambahnya pengguna internet di seluruh dunia terutama di Indonesia mencapai 51% dari total penduduk Indonesia sebesar 256 juta jiwa. Data tersebut sebagai peluang yang menggiurkan untuk membuka pintu bisnis on line, karena mayoritas pengguna internet juga aktif dalam media sosial, perkembangan internet yang pesat juga dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur teknologi informasi yang menyediakan akses jasa internet yang menyeluruh dan semakin cepat (Hamdan, 2019: 59-60).
Pada aspek pendidikan, pemerintah belum berhasil menciptakan atau mengembentuk wirausaha usaha baru dikalangan peserta didik. Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan informasi bahwa jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang meningkat dari Agustus 2018 yang hanya 7 juta orang. Ternyata tingkat pengangguran yang terendah adalah SMP (4,75%), SD ((2,41%), Sementara tingkat pengangguran terbuka didominasi oleh lulusan SMK dan SMA (10%). (Pikiran Rakyat, edisi 29 Pebruari 2020), Fenomena ini menunjukkan rendahnya minat untuk berwirausaha berbasis digital yang berdampak pada rendahnya jumlah wirausaha berbasis digital dikalangan pemuda Jawa Barat.
Berdasarkan fenomena di atas, yaitu adanya beberapa penghambat yang dialami oleh wirausaha muda, yaitu rendahnya kemampuan menggunakan teknologi berbasi digital, terdapat pula beberapa faktor yang pendukung wirausaha muda dalam melaksaksanakan usahanya, yaitu, sebagian besar mereka telah memiliki handphone, laptop sebagai alat untuk membantu kelancaran usaha mereka. Namun faktor pendukung tersebut belum optimal digunakan mereka. Mereka baru menggunakan faktor pendukung tersebut hanya untk bermain game, atau kegiatan lain yang tidak menghasilkan penghasilan buat mereka.
Untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi saat ini, maka perlu diberikan pelatihan kewirausahaan berbasis digital, sehingga diharapkan mereka menjadi wirausaha digital (digitalpreneur), sesuai dengan tuntutan era revolusi 4.0.

Digitalpreneur (Wirausaha berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi )
Digitalpreneur adalah wirausaha yang usahanya berbasis digital atau berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Wirausaha digital adalah fenomena yang muncul melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Guthrie (2014) menyatakan usaha digital adalah penjualan produk atau jasa melalui jejaring elektronik. Wirausaha digital juga telah menarik minta usaha para pebisnis milenal (Farani et al., 2017). Namun potensi wirausaha digital dari pebisnis milenial tentunya perlu dikembangkan dari berbagai pihak. Pihak yang berperan besar adalah pemerintah, perguruan tinggi dan industri. Ketiga pihak tersebut merupakan organisasi yang paling kondusif dalam mengembangkan inovasi. Peran ketiga pihak tersebut yang selama ini bergerak masing-masing sebenarnya dapat saling bekerjasama atau disebut dengan triple helix.
Wirausaha digital Merupakan subkategori dari kewirausahaan dimana organisasi tradisional yang bergerak secara fisik didigitalisasikan, sehingga wirausaha tradisional berubah dalam bentuk usaha baru di era digital baik secara produk, distribusi maupun lokasi usaha Hair et al. (2012), Le Dinh et al., (2018). Wirausaha digital juga merupakan upaya mencapai peluang usaha baru melalui media baru dan teknologi internet (Davidson and Vaast, 2010). Lebih spesifik Richter et al. (2017) menyatakan wirasuaha digital adalah upaya untuk memperoleh pangsa pasar, peluang usaha yang menghasilkan uang serta berupaya menjadi inovatif, radikal dan pengambil resiko.
Berdasarkan berbagai definisi tersebut menunjukkan bahwa pebisnis milenial memiliki semua ciri-ciri yang disebutkan. Mereka didorong untuk mengembangkan usaha digital secara inovatif baik secara produk, distribusi maupun tempat kerja yang berbasis internet untuk mencari pangsa tertentu dan peluang pasar. Kegiatan pengembangan usaha digital dilakukan baik oleh pemerintah, serta perguruan tinggi dan industri melalui pusat pengembangan usaha atau disebut dengan inkubator bisnis.
Diantara keuntungan wirausaha digital adalah: usaha digital cenderung baru sehingga tidak diperhatikan dalam persaingan usaha. Usaha digital mampu mengakses dan menganalisis sejumlah informasi persaingan dan pelanggan potensial. Usaha digital juga terobsesi untuk mendapatkan, diseminasi serta menganalisis tindakan melalui pegetahuan karena berorientasi pasar ((Hair et al., 2012).
Pengembangan wirausaha digital membutuhkan kolaborasi ketiga pihak pemerintah, perguruan tinggi dan industri. Kementrian Komunikasi dan Informasi mencanangkan kebijakan gerakan 1000 startup digital (Rudiantara, 2019). Peran pemerintah Indonesia dalam membuat regulasi sangat penting untuk mendorong pengembangan wirausaha digital baru.

Digital Entrepreneurship (kewirausahaan berbasis digital)
Untuk menghasilkan wirausaha digital diperlukan pendidikan dan atau pelatihan kewirausahaan berbasis digital. Esmaeeli, (2011) menyatakan bahwa kewirausahaan digital awal mulainya dimulai dalam mengembangkan atau digitalisasi usaha. Lingkup digitalisasi usaha berasal dari layanan digital yang tergolong cepat dan memuaskan sehingga dipilih untuk membuat hampir seluruh layanan menjadi digital. Potensi barang dan jasa lebih luas dengan jalur distribusi digital, potensi interaksi digital dengan pemangku kepentigan, dan potensi digital dari kegiatan internal terkait dengan oprasi perusahaan. Bisnis digital menjelaskan mengenai penciptaan nilai baru, yang melibatkan model bisnis baru berdasarkan barang dan layanan digital, distribusi digital, tempat kerja digital, dan pasar digital.
Kewirausahaan digital sangatlah berbeda dengan kewirausahaan tradisional. Perbedaannya terletak pada pada kondisi usaha yang berupa modal, tempat dan produk. Aspek modal ada perbedaan pada jenis usaha fisik dengan usaha online yang banyak perhitungan mengenai kebutuhan yang cukup besar, karena memperhitungkan berbagai hal untuk perizinan usaha dan bahan baku/produk utama yang diperdagangkan. Jika usaha online tidak terikat aturan yang ketat mengenai modal, karena mayoritas pelaku/calon pelaku usaha digital tidak mensyaratkan banyakanya modal seperti usaha konvensional (Hamdan, 2019: 61).
Keunikan kewirausahaan digital terletak pada kenyataan bahwa TIK menyediakan infrastruktur yang mendukung sebagian besar, jika tidak semua, aktivitas rantai nilai dan yang menjadi sandarannya. Dua jenis bisnis sesuai dengan definisi ini: (a) Bisnis yang menggunakan TIK untuk mengurangi biaya, meningkatkan operasi internal dan layanan pelanggan melalui adopsi platform digital; dan (b) bisnis yang mengembangkan perangkat keras, perangkat lunak, dan teknologi jaringan dan menggunakan platform digital untuk mengkomersialkannya. Ini termasuk bisnis yang menyediakan akuntansi online, hotspot Wi-Fi, cadangan telepon, perangkat lunak kecerdasan buatan, komputasi sosial dan platform digital untuk konsumsi musik, katalogisasi seluler dan Internet, mesin telusur, pasar beli-jual dan bisnis multimedia yang menjual produk dan layanan digital (Boojihawon & Ngoasong, 2018) Selain itu, bagi perusahaan rintisan yang model bisnisnya berorientasi pasar atau konsumen, mereka harus memanfaatkan sepenuhnya sumber daya teknologi yang tersedia di lingkungan teknologi terbuka (Guo et al., 2020)
Melalui penjelasan di atas, kewirausahaan berbasis digital memiliki peluang yang tinggi untuk menjalankan bisnisnya. Digitalisasi dalam kewirausahaan dapat menaikkan peluang kompetitif yang lebih besar dan menjangkau wilayah lebih luas. Untuk itu, pendidikan kewirausahaan berbasis digital dapat mendorong wirausaha baru dikalangan pemuda lebih kreatif dan inovatif sehingga terwujud dan atau mengembangan wirausaha yang usahanya berrbasis teknologi dan komunikasi.

Penutup
Untuk mengembangkan wirausaha berbasis digital dikalangan pemuda, harus ada kemauan dan kolaborasi antara Perguruan Tinggi/persekolahan, Pemerintah, Industri dengan membuat regulasi dan atau kebijakan-kebijakan yang dapat memfasilitasi tumbuh kembangnya wirausaha baru berbasis digital sesuai tuntutan era revolusi industri 4.0, antara lain dengan memberikan pendidikan dan atau pelatihan kewirausahaan berbasis digital (TIK), baik pada pendidikan formal maupun non formal.

Leave a Comment